Sunday, February 9, 2020

Hilang

***tulisan pertamaku di tahun 2018***


Jadi semuanya berawal dari pembicaraan melalui telepon seluler sabtu malam setelah sholat isya’ september beberapa bulan lalu. Ketika aku, seorang remaja labil yang ingin meminta kepastian kepada seorang lelaki yang pernah menjanjikan sebuah janji manis kepadaku. Sebut saja ‘Dia’. Entah kenapa malam itu aku begitu antusias menanyakan tentang hal itu padanya. Aku bertanya dengan sedikit memaksa. Dengan balasan jawaban yang tak begitu pasti. Ingin rasanya ku urungkan niatku untuk menginterogasi lebih dalam kepadanya, namun tekadku mengalahkan egoku tersebut. Aku berhasil membuatnya menjawab dengan pasti tanpa sedikitpun aku merasa ragu dengan apa yang dia katakan.
Di saat dia sedang asyik bercerita, aku potong ceritanya tanpa peduli. Aku bertanya: “kamu namakan apa hubungan kita ini?” ,“aku tidak tahu”  katanya singkat. Aku sedikit kesal, tetapi tak menyerah, sekali lagi, “kamu nganggapnya apa, apakah hubungan ini masih ada atau tidak, jika iya, jawab iya. Jika tidak, jawab tidak, aku tidak akan marah, dan mau menerima apapun jawaban darimu”. “kamu sendiri menganggap hubungan kita ini apa?”  jawabnya menyebalkan.“ayolah, aku itu sedang bertanya serius padamu, kenapa kamu malah bertanya balik padaku, sebagai seorang lelaki, tegas sedikit lah!”. Jawabku kesal. Karena sebenarnya aku hanya ingin kepastian dan kejelasan darinya, bukan maksud apa- apa. Apalagi hanya untuk memberi kode agar dia memberi kepastian bahwa dia masih menyimpan rasa itu kepadaku. Ah menurutku itu bukan sebuah kepastian, melainkan janji manis semu. Aku tidak suka itu! “kalau di kata iya, ya aku masih menyimpan rasa itu padamu tetapi aku sedikit ragu, karena kamu jauh dariku, makannya aku tak tahu mau menamakan apa hubungan kita ini”  jelasnya. “hmm aku paham yang kamu maksud, jadi intinya kita ini?” , “aku tak tahu” jawabnya lagi. “ya sudahlah, kita hanya sebatas teman tidak lebih”, ringkasku. 
Mendengar penjelasannya yang singkat sudah membuatku paham akan maksud yang dia sampaikan. Wajarlah selama ini ada perasaan yang mengganjal dalam diriku, ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Sama – sama meragu akan kesetiaan hubungan antara aku dan dia. Aku merasa di gantung olehnya, sedangkan jauhnya jarak membuat dia tak percaya lagi padaku. Padahal cintaku tak serendah itu heh! Aku memperjelas lagi maksudku bertanya hal itu padanya, “aku sengaja menanyakan hal ini, aku hanya ingin meminta kepastian, aku lelah digantung terus olehmu, ketika aku membutuhkanmu, apa kamu pernah ada untukku?”, dan kali ini jawabannya seakan membuat diriku hancur berkeping – keping tanpa menyisakan sedikitpun butiran – butiran debu. Tangisku pecah kala dia memulai merangkaikan kata demi kata, kalimat demi kalimat, pada akhirnya aku hanya terdiam dan termenung mendengarkan rangkaian penjelasannya. Apa katanya: “aku sengaja, tak menghiraukanmu selama ini, selalu cuek ketika kamu membutuhkanku, selalu menghilang ketika kamu bilang rindu. Sungguh mati, aku juga merindukanmu, tapi aku tak mau kau tahu. Oleh sebab itu aku jarang bilang rindu ke kamu, kalau di tanggapi nanti malah rindunya tambah subur. Biarkan rindu itu menjadi reda.”, “tapi apa tujuannya?”, “aku tak mau mengganggumu, aku mau kamu kuliah, ngaji dengan benar.”, “ya, setidaknya sekarang aku sudah tahu apa alasanmu mendiamkanku, selama ini aku bingung kenapa kamu bersikap tak biasa seperti itu, dan aku pun tak terfikirkan sampai kesitu”, “ya sudah tak apalah, aku disini selalu support kamu, jangan kefikiran aku dulu ya, kalau kamu kefikiran aku terus aduuh,, sayang kuliahmu, jauh – jauh nuntut ilmu disitu tapi nggak ada yang nyantol” , tutupnya. Aku hanya bisa menganggukkan kepala sambil mengusap air mata yang tak sengaja jatuh di pipi. “kalau nggak jodoh walaupun di ikat dengan kencang ya tetap saja nggak jadi, percayalah dengan janjinya Gusti Allah, dengan taqdirnya Gusti Allah.”, tambahnya.
Heningnya malam dan dalamnya perbincangan yang sama – sama melarut, di teras yang sudah menjadi tempat jemuran, depan kamar dua belas asrama mahasiswi, semakin membuat aku mantap untuk tetap terus melanjutkan perjuangan demi masa depanku. Perjuangan apakah itu ? Lulus wisuda dengan predikat cum laude, bertahan di asrama selama empat tahun tanpa pulang kampung ketika liburan, ataukah dia? Ya, semua perjuangan yang pantas untuk di perjuangkan. Itulah jawabannya. “ehem…kenapa diam?” dia menegurku. “eeehh iya, apa lagi ya…”, spontan aku bertanya sambil melihat jam di layar handphone ku, yang sudah menunjukkan pukul 23.22 WIB. “sepertinya sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan, kalau tak ada lagi, kita sudahi saja sampai disini, disambung lagi lain kali” , “iya..”, “assalamu’alaikum”, “wa’alaikumussalam” tutupku singkat. ....(bersambung)....