Monday, August 29, 2022

Ku Lepas dengan Ikhlas

 

Akhir-akhir ini aku berpikir “wah hebat sekali diriku. Tidak pernah lagi membahas masa lalu, baik secara verbal maupun yang tersirat di hati.” Ketika ada yang me-mention dirimu di hadapanku, dengan gercep hati dan lisanku bungkam, tak membalasnya kecuali hanya dengan sebuah senyuman. Senyum formalitas saja. Sebisa mungkin berusaha agar tak terpancing oleh pembahasan yang berpotensi membawa bahaya bagi psikis dan pikiran. Dengan keras ku mencoba untuk bersikap profesional. Tidak lagi mengingat-ingat masa lalu yang menyakitkan. Jika hal itu terjadi aku merasa telah menghianati hati dan diri sendiri. Begitulah kontrak antara diri dan hatiku.

Namun kali ini tiba-tiba terbersit dalam benakku untuk sejenak berselancar pada peristiwa masa lalu. Masa di mana kegalauan sering kali singgah di kehidupanku, tidak kenal waktu. Dia betah sekali menempel di pundak manusia setengah daya ini. Seperti tak ada orang lain saja yang lebih mampu. Hiks memilukan.

Bukan hal mudah membuka ponsel di pagi buta hanya untuk memberi pesan semangat mengawali hari. Perhatian-perhatian kecil yang terlontar setiap saat kau memosting sesuatu di media sosialmu. Berusaha membalas dengan respon cepat ketika dirimu menghubungiku. Bahkan tak segan segera kusingkirkan segala macam kesibukanku ketika bunyi “kring” terdengar dari ponsel genggamku. Haha aneh tetapi ini nyata.

Sejenak setelah ku mengulas kembali masa lalu dalam ingatanku, seketika bibir dan mataku sepakat untuk melayangkan senyuman kelegaan. Tarik nafas secara dalam kemudian ku hembusan nafas penuh kelembutan. Seraya berkata “akhirnya aku telah mampu lepas dari hubungan yang cukup toxic itu, hingga dua tahun lamanya”. Segenap lika-liku yang hadir menghampiriku di selang waktu dua tahun itu, cukup memporak-porandakan jiwa raga, terlebih hatiku yang mungil ini.

Hari ini dan esok yang akan datang aku harus selalu bersyukur dengan ketegaran yang aku miliki dalam melewati masa-masa sulit itu. “Terima kasih diri ini yang telah sudi bertahan. Melewati sulit sendirian. Tanpa seorang teman sebagai sandaran. Hanya ada Dia tempat aku mencurahkan segala keresahan. Aku kuat, aku hebat! Semua yang ku lewati adalah serangkaian dari proses pendewasaanku di masa kini.” Lagian Tuhan juga sudah dari jauh hari menjanjikan bahwa Dia tidak akan menguji hambaNya melalui batas kemampuannya.

Selamat tinggal masa lalu, kini ku lepas dirimu dengan ikhlas. Doaku untukmu semoga Tuhan senantiasa memberikan kesejahteraan bagi kehidupanmu, dan kamu dapat menjaga apa yang sudah menjadi bagian dari hidupmu saat ini.  Di masa mendatang aku berharap bisa dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar bisa menjadikanku sebagai penyempurna agamanya, yang rela menerima segala kelemahan dan kekuatanku jika ada. Bagian terpenting yaitu ketika aku dapat dikatakan “botol ketemu tutup”, ketika aku bersamanya. Hehe aamiin YRA.

2 comments: